Selasa, 01 April 2014

Pergilah Mengambang





Iya atau tidak, kau bahkan tak pernah sekalipun mencintaiku untuk kedua kalinya? Katakan iya atau tidak, semua tipu daya ini hanya sekedar untuk kau punya pembanggaan? Katakan padaku, kau lari karena kau seorang pecundang! Oh, maafkan aku, aku lupa kau tak dapat berbicara.

Kau pikir aku mencintaimu? Kau pikir kau dapat memperalat isi hatiku? Ha..ha..ha. Asal kau pikir saja, aku tidak punya hati, atau bahkan rongsokannya. Oh, maafkan aku, aku lupa kau tak dapat berpikir.

Kau tak menggengam apa-apa, saudaraku. Itu semu, hanya ampas angin yang menyelinap paksa di celah buku-buku jarimu. Kau meremukkan apa? Waktu, atau hatimu sendiri? Oh, maafkan aku, lagi-lagi aku lupa kau tak berhati.

Kau jangan begitu. Kau itu cerminanku. Kau jahat, aku sudah jahat. Kau benci, aku semakin membenci.  Dengar, aku dapat menjelma batu, bahkan lebih keras dari engkau. Oh, maafkan aku, aku lupa kau pun tak dapat mendengar.

Kau anggap ini pembelaan? Bukan saudaraku, ini pembenaran.

Kau tahu kau sudah dilupakan, kan. Tak berguna kau datang lagi, pergilah mengambang di anak sungai, akan kutemui jasadmu di laut. Tapi tak ada air mata, ya, garam laut kukira sudah cukup membuat ragamu asin.


Menepi sajalah, kau tak akan tahan dengan arusku. Tak pernah seorang pun.
Tangerang,
1 April 2014. 19 : 38

Tidak ada komentar :

Posting Komentar