Iya atau tidak, kau bahkan tak pernah sekalipun mencintaiku
untuk kedua kalinya? Katakan iya atau tidak, semua tipu daya ini hanya sekedar
untuk kau punya pembanggaan? Katakan padaku, kau lari karena kau seorang
pecundang! Oh, maafkan aku, aku lupa
kau tak dapat berbicara.
Kau pikir aku mencintaimu? Kau pikir kau dapat memperalat
isi hatiku? Ha..ha..ha. Asal kau
pikir saja, aku tidak punya hati, atau bahkan rongsokannya. Oh, maafkan aku, aku lupa kau tak dapat
berpikir.
Kau tak menggengam apa-apa, saudaraku. Itu semu, hanya ampas
angin yang menyelinap paksa di celah buku-buku jarimu. Kau meremukkan apa? Waktu,
atau hatimu sendiri? Oh, maafkan aku,
lagi-lagi aku lupa kau tak berhati.
Kau jangan begitu. Kau itu cerminanku. Kau jahat, aku sudah
jahat. Kau benci, aku semakin membenci. Dengar,
aku dapat menjelma batu, bahkan lebih keras dari engkau. Oh, maafkan aku, aku
lupa kau pun tak dapat mendengar.
Kau anggap ini pembelaan? Bukan saudaraku, ini pembenaran.
Kau tahu kau sudah dilupakan, kan. Tak berguna kau datang
lagi, pergilah mengambang di anak sungai, akan kutemui jasadmu di laut. Tapi
tak ada air mata, ya, garam laut kukira
sudah cukup membuat ragamu asin.
Menepi sajalah, kau tak akan tahan dengan arusku. Tak pernah
seorang pun.
Tangerang,
1 April 2014. 19 : 38
Tidak ada komentar :
Posting Komentar